Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 18 Agustus 2026 tersebut diikuti oleh ibu-ibu PKK dan kepala dusun Desa Panti. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian Polije yang terdiri atas Ria Chandra Kartika selaku ketua, bersama Gamasiano Alfiansyah, Mudafiq Riyan Pratama, Selvia Juwita Swari, dan Imam Abrori sebagai anggota. Mengusung pesan "Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita", kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung pemilahan dan pengolahan sampah organik.

Ria Chandra Kartika membuka acara yang mengusung pesan Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita

Ria Chandra Kartika membuka acara yang mengusung pesan Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita

Ketua tim pengabdian, Ria Chandra Kartika, membuka kegiatan dengan mengajak masyarakat melihat persoalan sampah sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, karena masyarakat merupakan pihak pertama yang menghasilkan sekaligus dapat melakukan pemilahan terhadap sampah.

"Ketika sampah sudah dipilah sejak dari rumah, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah. Sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita bersama." — Ria Chandra Kartika, Ketua Tim Pengabdian

Mengenal Tiga Jenis Sampah

Pada sesi pertama, Gamasiano Alfiansyah memberikan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah dari rumah. Peserta diperkenalkan dengan tiga kategori sampah, yaitu organik, anorganik, dan B3.

Sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, daun, dan bahan organik lainnya diarahkan untuk diolah kembali. Sementara itu, sampah anorganik dipisahkan agar dapat dikelola lebih lanjut, sedangkan sampah B3 harus dipisahkan karena membutuhkan penanganan khusus.

Gamasiano menekankan bahwa pemilahan akan lebih efektif apabila dilakukan sejak dari rumah, sebelum sampah dibawa ke tempat penampungan.

"Pemilahan jangan menunggu sampai sampah berada di TPS. Masyarakat perlu mulai memilah dari rumah berdasarkan jenisnya." — Gamasiano Alfiansyah

Peserta kemudian diajak memahami bahwa sampah organik tidak harus selalu berakhir sebagai limbah. Sampah tersebut masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, salah satunya melalui proses pengomposan.

Pembuatan Kompos dengan Galon Komposter

Setelah menjelaskan pemilahan, Mudafiq Riyan Pratama melanjutkan materi dengan memperkenalkan galon komposter sebagai salah satu metode sederhana pengolahan sampah organik yang dapat diterapkan masyarakat.

Mudafiq memperagakan cara menyiapkan galon komposter sekaligus menjelaskan tahapan memasukkan sampah organik ke dalamnya. Dalam praktik tersebut, tanah kompos terlebih dahulu dimasukkan ke dalam galon sebagai starter. Sampah organik kemudian diletakkan di atas tanah tersebut, lalu ditaburi kembali dengan tanah kompos hingga sampah tertutup.

Praktik pembuatan kompos menggunakan galon komposter

Mudafiq Riyan Pratama memaparkan bagaimana mengolah kompos menggunakan galon komposter

Untuk membantu mempercepat proses penguraian, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan eco enzyme sebagai bahan yang dapat membantu proses pengomposan.

"Yang kita lakukan sebenarnya sederhana. Sampah organik dari rumah bisa kita masukkan ke dalam galon komposter. Ada tanah kompos sebagai starter, kemudian sampah organik, lalu ditutup kembali dengan tanah kompos." — Mudafiq Riyan Pratama

Menurutnya, metode tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin mengolah sampah organik secara mandiri dengan memanfaatkan wadah yang relatif sederhana.

Kenalkan Biopori sebagai Alternatif Pengolahan Sampah Organik

Materi berikutnya disampaikan Imam Abrori yang memperkenalkan biopori sebagai metode lain untuk mengolah sampah organik sekaligus memanfaatkannya di lingkungan sekitar.

Imam menjelaskan bagaimana sampah organik dapat dimasukkan ke dalam lubang biopori sehingga proses penguraian berlangsung di dalam tanah. Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan pipa biopori sebagai sarana untuk membuat dan memanfaatkan lubang tersebut.

"Biopori dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengolah sampah organik di lingkungan. Sampah yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penguraian di dalam tanah." — Imam Abrori

Melalui materi tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada galon komposter, tetapi juga memperoleh alternatif pengolahan sampah organik yang dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing.

Satukan Konsep Pengelolaan Sampah dari Rumah hingga TPS

Sebagai penutup sesi pertama, Selvia Juwita Swari merangkum seluruh materi yang telah disampaikan dengan mengajak peserta melihat pengelolaan sampah sebagai sebuah alur yang saling terhubung, mulai dari rumah hingga TPS.

Selvia menjelaskan bahwa masyarakat menjadi bagian pertama dalam rantai pengelolaan tersebut dengan melakukan pemilahan sampah di rumah. Sampah yang telah dipilah kemudian dibawa ke TPS dalam kondisi sudah terpisah antara organik dan anorganik.

Selanjutnya, pengelola TPS dapat mengolah sampah organik yang terkumpul menjadi kompos menggunakan galon komposter maupun memanfaatkannya melalui biopori. Dengan demikian, TPS tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya sampah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pengolahan sampah.

"Pengelolaan sampah ini harus menjadi satu kesatuan. Masyarakat memilah dari rumah, kemudian sampah dibawa ke TPS dalam kondisi sudah terpilah. Sampah organik yang terkumpul selanjutnya dapat diolah menjadi kompos melalui galon komposter maupun biopori." — Selvia Juwita Swari

Konsep tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada satu pihak. Masyarakat, pengelola TPS, dan pemerintah desa perlu menjalankan perannya masing-masing agar sistem pemilahan dan pengolahan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dari Eco Enzyme Menjadi Produk Karbol

Memasuki sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan eco enzyme dan karbol yang dipandu oleh aktivis lingkungan Bu Grossy.

Peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pembuatan eco enzyme dengan memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari sampah organik. Setelah memahami proses pembuatannya, peserta kemudian diajak mempraktikkan pengolahan eco enzyme menjadi produk karbol.

Peserta mempraktikkan pembuatan eco enzyme

Peserta mempraktikkan pembuatan eco enzyme dari sampah organik

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai proses pembuatan maupun pemanfaatan produk yang dihasilkan. Tidak berhenti pada demonstrasi, peserta juga terlibat langsung dalam praktik. Sejumlah peserta mencoba mengikuti tahapan pembuatan eco enzyme dan karbol secara bersama-sama.

Antusiasme tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang bertanya dan mengikuti praktik hingga menghasilkan produk karbol yang dapat dimanfaatkan. Sebagian hasil karbol bahkan dibawa pulang oleh peserta.

Peserta mempraktikkan pembuatan karbol

Peserta antusias mempraktikkan pembuatan karbol dari bahan dasar eco enzyme bersama aktivis lingkungan Bu Grossy.

Polije Serahkan Sarana Pengelolaan Sampah kepada Desa Panti

Pada akhir kegiatan, tim pengabdian Polije menyerahkan sejumlah sarana pendukung pemilahan dan pengolahan sampah kepada Pemerintah Desa Panti yang diwakili oleh perangkat desa.

Sarana yang diserahkan meliputi tempat sampah tiga kategori, yaitu organik, anorganik, dan B3; galon komposter siap digunakan; pipa biopori; label bertuliskan organik dan anorganik untuk dipasang di TPS sehingga area pengelolaan sampah dapat dipisahkan berdasarkan jenisnya, serta spanduk edukasi pemilahan sampah.

Selain sarana tersebut, tim juga menyerahkan eco enzyme hasil praktik dan produk karbol yang dibuat bersama masyarakat dalam kegiatan. Penyerahan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu Desa Panti melanjutkan praktik pemilahan dan pengolahan sampah setelah kegiatan pengabdian selesai.

Penyerahan alat pengolahan sampah beserta hasil karya pembuatan eco enzyme

Penyerahan alat pengolahan sampah beserta hasil karya pembuatan eco enzyme kepada Perangkat Desa Panti

Antusiasme peserta selama kegiatan menjadi salah satu catatan positif dalam pelaksanaan program. Ibu-ibu PKK dan kepala dusun tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga aktif bertanya dan terlibat dalam praktik.

Melalui kegiatan ini, Polije bersama masyarakat Desa Panti mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah: bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali.

Semangat "Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita" pun menjadi pesan utama kegiatan, dengan harapan kebiasaan memilah dari rumah dapat menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih tertata di tingkat masyarakat hingga TPS dan pada akhirnya mendukung terwujudnya Jember Resik.